Membongkar Kecurangan EMMA Asia

Membongkar Kecurangan EMMA Asia

Jakarta, BosMobil.com – Pihak EMMA Indonesia yang bernaung di payung PT Audio Workshop (AWS) memastikan tak akan menyelenggarakan EMMA Asia pada tahun 2015. AWS tentunya memiliki alasan yang mendasar mengapa hal ini bisa terjadi.

Wahyu Tanuwidjaja selaku CEO AWS sekaligus pemegang lisensi EMMA Indonesia, membeberkan kecurangan yang dilakukan oleh oknum pihak penyelenggara EMMA Asia dibawah pimpinan Somkiat Pookayaporn dan juga ulah buruk yang dilakukan oknum dari pihak panitia EMMA Thailand pada tahun 2014. Berikut adalah sejumlah pernyataan Wahyu Tanuwidjaja yang dihadapan para importir dan rekan jurnalis di Resto Pendopo 21, Kelapa Gading (20/10/15).

EMMA-ASIA-1

Sempat Ada Pernyataan Final EMMA Asia 2014 di Indonesia

Pada Final EMMA Asia Leg Indonesia tahun 2013, Somkiat menyatakan ke saya bahwa tahun depan (2014) final akan digelar di Indonesia, karena menurut Somkiat peserta EMMA Asia paling banyak Indonesia, jadi yang layak sebagai tempat final adalah Indoneisa. Tapi yang seperti kita ketahui, final 2014 ada di Thailand.

Kecurangan Pada ESQL

Ketika saat final Asia berlangsung kebetulan saya sedang protes terkait mobil saya. Mengenai mobil Monster Dominations yang bertanding ESQL EMMA Asia, mobil itu menggunakan subwoofer sebanyak 12 unit dengan ukuran 12 inchi, tapi musuh kita dari Filipina menggunakan subwoofer 12 unit dan 15 inchi.

loh! kita kaget dong karena kita bertanding di ESQL Master Unlimited. Karena untuk SPL-nya harus mengikuti aturan dari pada ESQL Master, memang namanya Unlimited tapi jumlah dan ukurnya tetap dibatesin, kalau anda baca rulebook jumlah ukuran ESQL Master Unlimited adalah 8×12 atau 6×15, lalu mobil saya diadu dengan 12×15, bagaimana juga kita pasti kalah.

Masalah ESQL 8×12 inchi melawan 12×15 inchi dikelas Master Unlimited adalah ke-alpa-an membaca aturan yang terjadi tidak sengaja. Mengapa saya bilang tidak sengaja? Karena Jino Bhuksasri dan Mickey Tang sebagai innovator ESQL menyatakan maafnya pada saya. Tetapi disayangkan panitia nggak ada ngomong apa – apa.

Kecurangan Bonus Poin

Masalah bonus point pada SQ adalah masalah abu – abu, tapi di Eropa itu sudah ditentukan. Bonus point itu maksimum adalah 3 poin dimana 1 poin mengenai ide (originlitas), kedua siapa yang mengseksekusi idenya, ketiga adalah finishing pekerjaannya. Ini kita sudah latihan tahun sebelumnya di Eropa untuk mengeskusi bonus itu.

Kita bikin mobil (Honda Jazz) Andy yang bertarung di SQ Expert Unlimited itu tidak main-main, 3 tahun kita bikin mobil itu, karena mikirin bonus poin. Sehingga mobil itu dibikin untuk mendapat bonus poin sebanyak-banyaknya.

Apa yang terjadi Final Indonesia bulan Febuari 2014, jurinya adalah dari filipina dan Kananusorn dari Thaiand. Mobil saya dapat bonus poin 99, mobil (Grandis) Sugeng Adhi atau Andre Audio Plus hanya dapat 70 poin. Itulah pertandingan kalau kita tidak bisa fight di suara kita fight di installasi, itu wajar.

Pada saat Final Asia jurinya kembali Kananusorn, apa yang terjadi, mobil Andre dikasih bonus poin 50 sekian, mobil saya 40 sekian. Saya bilang ke Kananusorn, kamu pernah ngejuri mobil saya, dan ngasih poin lebih banyak dari mobil Andre, hari ini kamu kasih dibawah mobil Andre, saya mesti komplen dong. Tau jawaban dia “ini cara saya ngejuri sejak dari Jepang” saya bilang, saya tidak peduli kamu pengen juri seperti apa, saya bikin mobil ini sesual rulebook, bukan cara menjurimu bagaimana, trus dia bilang “pokoknya gue begini kalau nggak seneng protes saja, akhirnya saya protes dan pertaruhkan 30 poin ke Somkiat.

Somkiat mengatakan kamu punya 3 pilihan, diantaranya “tanda tangan dan lanjut, protes dan saya rubah nilai kamu tapi harus terima, atau kamu mundur,”. Pilihanya nggak ada yang bagus, tapi memang rulebook seperti itu. Akhirnya saya pilih yang kedua walaupun kita tahu kita sedang dikerjain. Kemudia dia asal – asal tambahin poin dan kita dapat 50 sekian lebih banyak sekitar 5 poin dari mobil Andre.

Kacurangan Berlajut ke Thailand

Setelah EMMA Asia Indonesia berlanjut ke EMMA Asia Thailand. Juri perwakilan Indonesia adalah Kevin Keegan. Saya WatsApp (WA) Kevin, “Vin kamu nih dalam masalah besar dan kamu mesti ngomong sama Somkiat bagaimana menyelesaikan masalah ini.

Entah bagaimana Kevin tidak ngomong ke Somkiat, saya tanya lagi dong, “kamu mau menjuri cara apa, kamu mau cara bener pasti mobil Thailand juara 1, Kevin membalas “Ko saya nggak mungkin pakai cara bener karena cara Kananusorn ngak bener,” saya bilang kalau kamu juri mobil Buck UDC nggak bener, 1000 persen dia akan taro 30 point, karena dia tau rule.

Benar saja UDC taro 30 poin, karena dikasih bonus poin kecil. Setelah itu adu argumentasi berat, Kananusorn mau kasih banyak poin tapi kevin bilang nggak bisa. Akhirya nggak ada keputusan karena kosong, diisi Kananusorn, Kevin jawab kalau loe mau segitu gue sebagai juri nggak mau tanda tangan, dengan harapan kalau nggak tanda tangan menjadi atensi dan tidak sah, kemudian tidak ada pengumuman di Expert Unlimited, nyatanya yang terjadi panitia mengumumkan pemenang, nggak boleh dong seperti itu.

Antara Final Lokal dan Final Asia, Beda 1 Hari Tapi Juri Sama

Sebenarnya ada masalah besar lagi satu hari sebelum final EMMA Asia di Thailand, mereka melakukan yang namanya Final EMMA Thailand (EMMA Lokal), sama seperti di China, 1 hari sebelum EMMA Asia China, tapi bedanya juri China menggunakan juri berbeda, sedangkan di pihak penyelenggara di Thailand menggunakan juri EMMA Asia untuk menjuri EMMA lokal satu hari sebelumnya.

Ada kejadian satu tim disana salah mengitepretasikan rulebook, masalah penggunaan sikring 100 ampere yang tidak pakai kabel ground, dirule itu bicara kalau sikring 50 ampere baru boleh nggak pakai ground.

Entah siapa yang salah, tim itu debat sama juri dan itu ribut, akhirnya Somkiat bilang saya yang salah dan poin-nya semua dipenuhin. Kalau event lokal saya nggak peduli, tapi apa yang terjadi malemnya, mobil itu dibetulin semua, sehingga besok installasinya mobil Thailand adalah full poin, orang satu hari sebelumnya sudah latihan sama juri Asia. Sekarang saya tanya fair nggak buat kita, China atau negara lain.

Peryataan ini tidak menggeneralisir pelaku EMMA di Thailand (baik peserta atau panitia) bahwa mereka kompak “bermain”, namun hal ini terjadi karena ulah oknum yang yang diduga kuat ingin menaikan salah satu tim pada final Asia 2014.

Klimaks

Tidak lama kemudian ada Industrial Meeting Asia di Thailand, saya protes didepan seluruh orang yang ada, termasuk hadir juga delagasi EMMA Indonesia diataranya, Steven AJM, Philipus, Paulus, Andre dan ada beberpa orang lagi . Saya meminta umumkan siapa yang benar, hasil saya nggak masalah, jadikan ini pembelajaran untuk tahun depan lebih baik. Saya tegaskan lagi kalau anda nggak mau beresin ini semua Indonesia tidak akan ikut lagi EMMA Asia.

to be continued….

KOMENTAR