You Should Know : Exhaust Gas Temperature (EGT)

You Should Know : Exhaust Gas Temperature (EGT)

Mobil high-performance yang ditujukan khusus untuk balap, tentunya segalanya harus diperhitungkan. Mulai dari proses awal, pergantian komponen mesin untuk menghasilkan power yang lebih besar, hingga fine tuning, supaya mendapatkan hasil akhir yang maksimal.

Pada pembahasan kali ini, ada suatu hal yang harus Anda ketahui, yaitu Exhaust Gas Temperature (EGT). Mungkin beberapa sudah mengetahui, namun ada juga yang belum, karena memang sebenarnya tidak meningkatkna performa mobil itu sendiri. Sepele, tapi jika diabaikan bisa berakibat fatal juga.

Exhaust Gas Temperature (EGT)

“Exhaust Gas Temperature atau EGT adalah suhu gas buang yang berasal dari ruang bakar atau combustion chamber,” ungkap Yogi Susanto dari workshop GT Auto Station. Combustion chamber itu sendiri merupakan proses tempat bertemunya bahan bakar dan udara, yang kemudian terjadi pembakaran maupun kompresi, dan akhirnya menjadi tenaga untuk menggerakan mobil.

Proses inilah yang akan menghasilkan panas di combustion chamber. “Jangan disamakan dengan suhu yang terbaca di indikator bawaan mobil ya. Itu berbeda, karena membaca suhu pada air radiator. Jadi tidak bisa sebagai patokan,” tambahnya.

Exhaust Gas Temperature (EGT)

Pemilik workshop yang bermarkas di daerah Bekasi ini melanjutkan jika Exhaust Gas Temperature tidak boleh terlewatkan saat proses tuning. Karena sebenarnya hal ini bisa dibilang salah satu unsur yang paling penting untuk diperhatikan, dan sangat krusial.

“Banyak orang yang hanya cukup memperhatikan Air-Fuel Ratio (AFR). Padahal dengan cenderung rich-nya Air-Fuel Ratio, belum tentu Exhaust Gas Temperature-nya rendah. Sedangkan mobil high performance, bagaimana caranya mendapatkan Exhaust Gas Temperature serendah mungkin,” ungkap Yogi.

Exhaust Gas Temperature untuk mobil harian adalah 600-800 derajat celcius, kemudian untuk mobil yang khusus balap bisa mencapai 1.500 derajat celcius. Exhaust Gas Temperature yang tinggi disebabkan oleh beberapa hal. “Misalnya mobil yang dilengkapi turbo. Boost pressure yang tinggi, diikuti ignition timing yang tinggi bisa meningkatkan suhu gas buangnya. Apalagi jika mobil naturally aspirated yang kompresinya cukup tinggi,” jelasnya.

Exhaust Gas Temperature (EGT)

Kenapa perlu memperhatikan Exhaust Gas Temperature? “Exhaust Gas Temperature perlu diperhatikan karena itu silsilahnya hasil pembakaran. Jika suhu gas buang terlalu tinggi, pastinya akan berbahaya untuk komponen mesin, meskipun itu sudah berspesifikasi high performance,” katanya.

Yogi mencontohkan dampak buruknya jika memaksakan kondisi Exhaust Gas Temperature yang tinggi. “Tidak menutup kemungkinan akan terjadi knock, jadi mesin tidak balance. Dampaknya menyebabkan bolong pada klep, melelehnya piston, crankshaft failure, conrod failure, dan lainnya. Paling parahnya, yang pernah saya lihat adalah piston bolong, diikuti setang piston patah,” ucap Yogi.

Bagaimana cara untuk menurunkan Exhaust Gas Temperature? Tentunya tidak hanya berdoa dan berharap. “Contoh sederhananya kalau mesin turbo, boost yang tinggi bisa diturunkan ignition timing-nya. Lalu bisa juga meningkatkan spesifikasi bahan bakar,” tuturnya.

Exhaust Gas Temperature (EGT)

Kemudian cara lainnya adalah menambahkan alat pendukung, seperti water methanol injection, oil cooler, ataupun mengganti radiator yang lebih besar. “Dengan kondisi Exhaust Gas Temperature yang tidak terlalu tinggi, atau berhasil diturunkan, nantinya timing ignition bisa dimajukan lagi, atau menambahkan boost pressure pada turbo, tentunya tetap memperhatikan suhu gas buangnya,” katanya.

Lalu untuk alat mengukur Exhaust Gas Temperature sendiri sudah banyak beredar di speed shop Indonesia, dengan beragam merek yang dipasarkan. “Yang branded seperti AEM, HKS, Defi, Auto Meter, dan lain-lainnya dengan tingkat keakuratan yang tinggi. Harga berkisar Rp 3-5 juta, itu biasanya sudah termasuk sensor untuk exhaust, kabel anti panas, dan gauge-nya,” ucap Yogi.

Exhaust Gas Temperature (EGT)

Sementara untuk pemasangannya, Yogi juga memberitahukan agar sedekat mungkin dengan kepala silinder. “Seperti di header dan jangan terlalu jauh dengan kepala silinder. Lalu untuk mobil yang ber-turbo, jangan dipasang setelah turbo, karena suhunya sudah berkurang,” tutupnya.

Thanks to : Yogi Susanto, GT Auto Station, Jati Makmur, Bekasi.

KOMENTAR