Bagi Honda, Recall Bukanlah Kriminal

Bagi Honda, Recall Bukanlah Kriminal

Mengawali tahun 2018 ini, Honda Prospect Motor (HPM) menjadi sorotan masyarakat dikarenakan melakukan recall besar-besaran terhadap produk mobil Honda yang dipasarkan di Indonesia. Dengan jumlah ratusan ribu, recall yang dilakukan seperti pergantian komponen rem hingga switch door mirror.

Menjadi sorotan masyarakat bukan berarti hal negatif bagi Honda. “Karena kami sering melakukan recall, dan recall itu bukanlah kriminal, tapi kewajiban produsen untuk melakukan perbaikan maupun ataupun pergantian komponen pada mobil konsumen yang mengalami atau diduga mengalami masalah,” kata Jonfis Fandy, Marketing & After Sales Service Director PT HPM.

Recall merupakan bagian dari after sales service bagi ATPM, dan salah satunya adalah warranty atau garansi pabrikan mobil. “Waktu mobil keluar dari pabrik, tidak ada ATPM yang berani bilang kondisi produknya 100%. Makanya setiap produk mobil, kami memberikan warranty dan itu menjadi hak konsumen,” lanjutnya.

Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan produk tidak 100%, seperti human error hingga mesin produksi itu sendiri. “Human error contohnya kondisi kesehatan karyawan. Kalau mesin produksi misalnya beroperasi 24 jam, tentunya suatu saat akan terjadi kelalaian,” ungkapnya.

Recall yang dilakukan juga bukan merupakan keputusan HPM, melainkan dari Honda Motor Company di Jepang. Jonfis mengatakan jika pihak HPM mengumpulkan data-data dari mobil itu sendiri, hingga keluhan-keluhan dari konsumen pada mobilnya, kemudian dikirimkan ke Honda Motor Company.

“Kami tidak bisa menetukan recall, kami hanya mengirim data ke Jepang, dan mereka yang menetukan apakah harus dilakukan recall. Dan juga, jika ada masalah pada mobil di luar negeri, tapi di Indonesia tidak, bisa saja kami tetap disuruh Honda Motor Company harus melakukan recall, tujuannya agar mencegah terjadinya masalah pada mobil konsumen,” tambahnya.